ACEH UTARA | REALITAACEH — Banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara beberapa waktu lalu tidak hanya meninggalkan kerusakan pada rumah dan fasilitas umum. Di balik lumpur dan puing-puing yang tersisa, ada masa depan pendidikan agama yang ikut dipertaruhkan.
Sebanyak 35 unit dari sekitar 210 dayah di Aceh Utara dilaporkan terpaksa berhenti beroperasi setelah sarana dan prasarana pendidikan rusak parah diterjang banjir. Kondisi tersebut membuat aktivitas belajar dan mengajar sebagian santriwan dan santriwati mengalami kelumpuhan.
Pemulihan infrastruktur dayah kini membutuhkan perhatian serius dan uluran tangan pemerintah, terutama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh. Sebab, hingga kini sejumlah fasilitas pendidikan agama tersebut masih belum kembali pulih dan sebagian bahkan belum tersentuh penanganan secara optimal.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Utara, Tgk. Muhammad Yunus, mengatakan kerusakan yang terjadi bukan hanya menyangkut bangunan fisik. Bencana juga telah memukul kehidupan para santri, guru mengaji dan pengelola dayah yang terdampak banjir.
“Bukan hanya bangunan, banyak di antara santri, guru mengaji dan pengelola dayah ikut menjadi korban. Hingga sekarang sebagian masih bertahan di hunian sementara. Semuanya ini sudah kami laporkan ke Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh,” kata Tgk. Muhammad Yunus, Jumat 11 September 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan penanganan segera. Jangan sampai pemulihan pascabencana hanya berhenti pada perbaikan rumah warga dan infrastruktur umum, sementara lembaga pendidikan agama yang menjadi tempat menempa generasi Aceh justru tertinggal.
Dayah, kata dia, bukan sekadar bangunan tempat santri menuntut ilmu. Lembaga pendidikan Islam tersebut telah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Aceh, sekaligus tempat pembentukan akhlak, moral dan karakter generasi muda.
“Dayah merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional tertua di Aceh. Fungsinya bukan hanya sebagai pusat ilmu agama, tetapi juga membentuk moral generasi muda serta menjadi salah satu pilar penjaga identitas dan adat istiadat masyarakat Aceh,”
Salah satu kisah paling memprihatinkan terjadi di Dayah Al-Anhar, Gampong Sawang, Kecamatan Sawang. Dayah tersebut dilaporkan mengalami kerusakan sangat parah hingga bangunannya praktis tidak lagi dapat digunakan dan harus direlokasi.
Ironisnya, meski bangunan dayah telah hilang diterjang banjir, semangat masyarakat untuk mempertahankan pendidikan agama tidak ikut hanyut. “Pengajiannya tetap normal berkat swadaya masyarakat. Tetapi untuk santri yang mondok sudah terhenti,” tutur Tgk. Yunus.
Kondisi ini menggambarkan betapa kuatnya semangat masyarakat mempertahankan pendidikan agama di tengah keterbatasan. Namun, kemampuan swadaya masyarakat tentu memiliki batas.
Karena itu, pemerintah diharapkan hadir bukan sekadar melalui bantuan sementara, tetapi dengan program pemulihan dan pembangunan kembali dayah yang terdampak secara menyeluruh.
Tgk. Yunus menegaskan, Dinas Pendidikan Dayah Aceh Utara terus berupaya menjalankan program pembinaan dan pengembangan dayah meskipun dalam kondisi serba terbatas.
Bahkan, sejumlah bantuan telah diupayakan secara mandiri oleh dinas bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), termasuk untuk membantu perbaikan balai pengajian.
Namun, kebutuhan di lapangan jauh lebih besar dibandingkan kemampuan pemerintah daerah. “Selama ini bantuan merupakan inisiatif sendiri dari dinas bekerja sama dengan BAZNAS, sampai perbaikan balai pengajian.
Mudah-mudahan Pemerintah Pusat bisa membantu segera penanganannya,” harapnya.
Sebab yang sedang menunggu untuk dipulihkan bukan hanya bangunan yang rusak, tetapi ruang tempat anak-anak Aceh belajar Al-Qur’an, mengenal agama, membangun akhlak dan mempersiapkan masa depan.
Jangan sampai banjir yang telah menghanyutkan bangunan dayah, juga ikut menghanyutkan kesempatan para santri untuk melanjutkan pendidikan. Aceh Utara membutuhkan kehadiran negara. Dayah membutuhkan uluran tangan pemerintah. Dan para santri menunggu tempat mereka kembali belajar dan mengaji dengan tenang. (04/DH)







