Search

26 Juli 2026

Jalan Rusak Jadi Warisan Puluhan Tahun, Mualem dan Tgk Muharuddin Kini Didesak Bertindak

admin

ACEH UTARA | REALITAACEH.COM – Pemandangan memprihatinkan masih menghiasi ruas jalan Kecamatan Seunuddon, tepatnya dari Desa Matang Jeulikat, Cot Patisah menuju Desa Matang Panyang. Jalan sepanjang sekitar satu kilometer itu rusak parah, dipenuhi lubang, dan menjadi ancaman bagi keselamatan pengguna jalan, baik kendaraan roda dua maupun roda empat.

Pantauan di lokasi, Sabtu (25/7/2026), memperlihatkan kondisi jalan yang nyaris tidak layak dilalui. Kerusakan tersebut bukan terjadi kemarin atau setahun terakhir, melainkan sudah berlangsung selama puluhan tahun tanpa penyelesaian yang berarti.

Yang membuat kondisi ini semakin ironis, jalan tersebut berada di Kecamatan Seunuddon, Kecamatan halaman Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem). Tak jauh dari lokasi itu juga merupakan kawasan yang berkaitan dengan Tgk Muharuddin, mantan Ketua DPRA yang kini kembali duduk sebagai anggota DPRA dari Partai Aceh.

Fakta ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat. Jika Desa halaman para pemimpin Aceh saja masih dibiarkan bergelut dengan jalan rusak selama puluhan tahun, bagaimana nasib daerah-daerah lain yang jauh dari pusat perhatian politik?

Seorang warga Kecamatan Seunuddon, Thayfuri mengaku heran melihat lambannya perhatian pemerintah.”Di Seunuddon ada empat anggota DPRK, satu anggota DPRA, bahkan sekarang Gubernur Aceh juga orang Seunuddon. Masa jalan kecamatan yang sudah rusak bertahun-tahun masih terus dibiarkan?” katanya.

Thayfuri juga menyebutkan jika selama lima tahun ini tidak ada pembagunan di Kecamatan Seunuddon, seperti jalan dan fasilitas lainya, maka masyarakat Seunuddon jangan mimpi Seunuddon akan berkembang.

” Jika lima tahun ini tidak ada perbaikan fasilitas di Seunuddon, maka jangan mimpi Seunuddon akan lebih baik di segi pembangunan dan fasilitas lainya, karena ini kesempatan yang tidak pernah datang kedua kalinya ” Ujar Thayfuri.

Sementara, Ridwan, seorang ASN yang setiap hari melewati ruas jalan tersebut, mengaku dampaknya sangat nyata. “Kalau jalannya bagus, dari rumah ke sekolah hanya sekitar sepuluh menit. Karena rusak, sekarang harus dua puluh lima menit,” ujarnya

Kondisi ini bukan lagi sekadar persoalan infrastruktur, tetapi juga menyangkut keberpihakan terhadap rakyat. Selama ini masyarakat disuguhi berbagai narasi tentang pembangunan, pemerataan, dan kepedulian kepada rakyat kecil. Namun di lapangan, jalan utama yang menjadi urat nadi aktivitas masyarakat justru tetap rusak dan seolah luput dari perhatian.

Masyarakat tentu berharap Mualem tidak hanya dikenal sebagai putra Seunuddon yang berhasil menjadi Gubernur Aceh, tetapi juga meninggalkan warisan pembangunan yang benar-benar dirasakan oleh warga di tanah kelahirannya. Begitu pula Tgk Muharuddin dan para wakil rakyat lainnya, sudah saatnya membuktikan bahwa jabatan bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan amanah untuk memperjuangkan kebutuhan masyarakat.

Rakyat tidak membutuhkan seremoni, baliho, ataupun pidato yang penuh janji. Yang dibutuhkan adalah jalan yang layak dilalui, agar anak-anak bisa bersekolah dengan aman, petani bisa mengangkut hasil panen, pedagang dapat menjalankan usahanya, dan warga tidak mempertaruhkan nyawa setiap kali melintas.

Sudah terlalu lama masyarakat Seunuddon bersabar. Puluhan tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk membuktikan keberpihakan kepada rakyat. Jika hingga hari ini jalan di kampung halaman para pemimpin Aceh masih tetap rusak, maka kritik publik adalah sesuatu yang wajar. Sebab ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan hanya pidato dan popularitas, tetapi sejauh mana persoalan paling mendasar masyarakat mampu diselesaikan.[Khaini]