KUALASIMPANG | REALIATAACEH.COM – Sejumlah anak penyintas banjir di Kabupaten Aceh Tamiang menangis haru saat dikunjungi tim kolaborasi relawan psikososial, Sabtu (18/4/2026).
Suasana emosional itu terlihat ketika para relawan dari Forum Konservasi Leuser, Ruang Baca (Langsa), serta psikolog dari Universitas Prima Indonesia (Medan) dan Universitas Medan Area (Medan) memberikan layanan dukungan psikososial kepada puluhan anak korban banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025.
Kegiatan ini dilaksanakan di halaman Masjid Kampung Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, sebagai upaya awal memulihkan kondisi mental anak-anak pascabencana.
“Ini hari pertama, kami masih dalam tahap identifikasi. Kami ingin mengetahui bagaimana kondisi mental mereka dan apa saja kebutuhan yang diperlukan,” ujar psikolog Universitas Prima Indonesia sekaligus koordinator relawan, Rina Mirza.
Menurut Rina, kegiatan tersebut menjadi pintu masuk untuk membaca kondisi psikologis anak-anak yang hingga kini belum sepenuhnya pulih.
Pada sesi awal, relawan menggunakan pendekatan ringan melalui permainan dan interaksi sederhana agar anak-anak merasa nyaman.
Fokus kegiatan dilakukan secara bertahap, tanpa langsung menggali pengalaman traumatis yang mereka alami.
“Karena sebelumnya ada laporan anak-anak mengalami gangguan seperti mimpi buruk hingga berteriak di malam hari,” jelas Rina, didampingi psikolog Universitas Medan Area, Meri Hafni.
Rina menegaskan program ini tidak bersifat sesaat. Kegiatan psikososial dirancang berkelanjutan dan akan menjangkau lima kampung di Aceh Tamiang.
Tujuannya adalah membangun ketahanan mental anak dan remaja agar lebih siap menghadapi situasi krisis di masa mendatang.
“Kita tidak tahu seperti apa bencana ke depan, tetapi anak-anak ini harus disiapkan menjadi pribadi yang tangguh. Mereka harus mampu menghadapi masalah, bukan terus bergantung pada relawan,” ujarnya.
Meski demikian, tantangan utama terletak pada konsistensi kehadiran peserta. Relawan berharap anak-anak yang hadir pada hari pertama dapat terus mengikuti sesi berikutnya agar proses pemulihan berjalan optimal.
Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi berdasarkan kelompok usia. Remaja tingkat SMP dan SMA didorong menjadi penggerak dan pendamping bagi anak-anak yang lebih kecil, sehingga dukungan dapat tumbuh dari dalam komunitas sendiri.
“Harapannya mereka bisa saling merangkul, karena kami tidak selalu ada di sini. Anak-anak ini harus mampu berdiri di atas kaki mereka sendiri,” kata Rina.
Di lokasi kegiatan, anak-anak tampak mulai terlibat dalam permainan sederhana seperti tepuk tangan dan interaksi kelompok. Aktivitas ini menjadi langkah awal untuk memecah kecanggungan sekaligus mengembalikan rasa aman.
Salah satu siswa SD terdampak banjir, Rizka Zahira, mengaku senang dengan kehadiran para relawan. Menurutnya, kegiatan tersebut mampu mengusir rasa sepi yang selama ini ia rasakan.
“Hari ini senang sekali karena ada kakak-kakak datang. Kalau di rumah saja tidak ada teman,” ujarnya.
Rizka kini tinggal di kawasan yang lebih tinggi sejak banjir melanda. Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, ia berharap kampungnya segera kembali seperti semula.
“Saya ingin punya sepeda. Harapan saya semoga kampung ini cepat pulih,” katanya.
Sementara itu, temannya, Halim, meluapkan kebahagiaan dengan tangisan yang semakin kencang saat berada dalam pelukan para relawan.
Program dukungan psikososial ini menjadi bagian penting dalam pemulihan pascabanjir, dengan fokus pada kesehatan mental anak-anak yang selama ini kerap terabaikan di tengah upaya perbaikan fisik wilayah terdampak.







