BANDA ACEH | REALITAACEH — Aceh dinilai patut bersyukur memiliki Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah atau yang akrab disapa Dek Fadh. Ketika Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem berhalangan menjalankan tugas, baik karena kondisi kesehatan maupun agenda di luar daerah, Dek Fadh menunjukkan kemampuan mengambil peran dalam menjaga roda pemerintahan dan stabilitas daerah.
Dua momentum penting baru saja dilalui Aceh, yakni peringatan 21 tahun perdamaian Aceh dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pada saat kedua agenda tersebut berlangsung, Mualem dikabarkan tengah menjalani perawatan di Malaysia.
Dalam kondisi tersebut, Dek Fadh tampil mengambil peran kepemimpinan. Ia juga mengajak masyarakat Aceh untuk bersama-sama mendoakan kesembuhan Mualem.
Kehadiran langsung Mualem sejatinya sangat dinantikan dalam dua momentum tersebut. Sebagai mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Mualem memiliki posisi simbolik yang kuat dalam perjalanan perdamaian Aceh.
Sementara sebagai Gubernur Aceh, ia merupakan pemimpin daerah yang secara langsung melekat dengan agenda kenegaraan, termasuk pelaksanaan upacara HUT Kemerdekaan.
Namun, kondisi kesehatan membuat Mualem harus menjalani perawatan. Dalam situasi itu, Dek Fadh mau tidak mau harus mengambil peran lebih besar.
Tampil Saat Situasi Genting
Salah satu momentum yang memperlihatkan kapasitas kepemimpinan Dek Fadh terjadi ketika suasana memanas di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, 15 Agustus 2026.
Kericuhan tersebut sempat membuat situasi tidak terkendali. Massa terlibat ketegangan dengan aparat, terjadi perusakan kendaraan, dan muncul aksi penurunan bendera Merah Putih serta pengibaran bendera Bulan Bintang.
Di tengah situasi yang penuh emosi tersebut, Dek Fadh memilih hadir langsung di tengah massa.
Kehadiran seorang pemimpin dalam situasi krisis memang tidak selalu cukup hanya melalui instruksi dari balik meja. Dibutuhkan keberanian untuk turun langsung, mendengar aspirasi masyarakat sekaligus membangun komunikasi dengan aparat keamanan.
Dek Fadh melakukan hal tersebut. Tanpa sekat protokoler yang berlebihan, ia berdialog dengan warga dan berupaya meredam emosi massa agar situasi tidak berkembang menjadi tindakan anarkis.
Pada saat yang sama, komunikasi dan koordinasi dengan pihak keamanan juga dilakukan untuk memastikan kondisi tetap terkendali.
Sikap tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan dalam keadaan genting membutuhkan ketenangan, keberanian dan kemampuan komunikasi.
Bukan Sekadar Pengganti
Pasca-kericuhan, pekerjaan Dek Fadh belum selesai. Ia masih harus memastikan kondisi Aceh tetap kondusif serta melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pejabat pemerintah pusat.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Dek Fadh juga mendampingi Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya saat meninjau Lapangan Blang Padang.
Rangkaian peristiwa tersebut memberikan gambaran bahwa posisi wakil kepala daerah tidak semata-mata menjadi pelengkap struktur pemerintahan.
Dalam kondisi tertentu, wakil gubernur dapat menjadi figur penting yang memastikan kesinambungan pemerintahan ketika gubernur sedang berhalangan.
Selama sepekan terakhir, Dek Fadh memperlihatkan sisi kepemimpinan yang cukup menonjol. Secara kualitas, ia tidak layak dipandang sekadar sebagai pengganti sementara, apalagi hanya sebagai “ban serap”.
Ia merupakan bagian penting dari kepemimpinan Aceh.
Memang secara administratif wakil gubernur merupakan pembantu gubernur. Namun dalam dinamika politik dan pemerintahan, wakil gubernur memiliki ruang strategis untuk memberikan gagasan, mengambil keputusan sesuai kewenangan, serta ikut menentukan arah pembangunan daerah.
Terlebih ketika Gubernur Mualem masih menjalani masa pemulihan, kemampuan Dek Fadh dalam menjaga stabilitas pemerintahan menjadi semakin penting.
Aceh Tidak Perlu Khawatir
Kondisi kesehatan Mualem tentu menjadi perhatian masyarakat Aceh. Harapan terbesar rakyat adalah agar beliau segera diberikan kesembuhan dan dapat kembali menjalankan aktivitas pemerintahan seperti sediakala.
Namun, di sisi lain, situasi tersebut juga memperlihatkan bahwa Aceh memiliki figur yang dapat menjalankan tugas kepemimpinan ketika gubernur berhalangan.
Dek Fadh telah menunjukkan keberanian turun ke lapangan, kemampuan membangun komunikasi dengan masyarakat, serta koordinasi dengan aparat dan pemerintah pusat.
Hal itu menjadi modal penting bagi seorang pemimpin. Bagi Aceh, kehadiran wakil gubernur yang mampu mengambil peran dalam situasi krisis tentu menjadi sebuah keuntungan. Pemerintahan tidak boleh berhenti hanya karena seorang pemimpin sedang berhalangan.
Karena itu, pengalaman selama beberapa hari terakhir layak menjadi catatan penting. Dek Fadh bukan hanya wakil gubernur secara administratif, tetapi juga dapat menjadi bagian dari kekuatan kepemimpinan Aceh dalam menghadapi berbagai situasi. (Red)

