ACEH UTARA | REALITAACEH – Bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara sejak 22 November hingga 2 Desember 2025 menimbulkan korban besar dan kerusakan luas.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara melaporkan sedikitnya 99 warga meninggal dunia, menjadikan peristiwa ini salah satu banjir paling fatal dalam beberapa tahun terakhir di wilayah tersebut.
Selain korban tewas, sebanyak 118 orang masih dinyatakan hilang. Upaya pencarian terus dilakukan oleh tim gabungan, namun akses menuju sejumlah lokasi terhambat oleh jembatan-jembatan yang putus serta jalan yang tertutup lumpur dan genangan air.
Curah hujan ekstrem memicu luapan air yang merendam permukiman di puluhan kecamatan. BPBD mencatat 56.684 kepala keluarga sekitar 164 ribu jiwa terdampak langsung. Dari jumlah tersebut, 34.756 keluarga harus mengungsi ke 447 titik pengungsian yang tersebar di berbagai kecamatan.
Di lokasi pengungsian, kelompok rentan menjadi perhatian utama para petugas. Hingga saat ini, tercatat 198 ibu hamil, 1.248 balita, 1.687 lansia, dan 58 penyandang disabilitas yang membutuhkan layanan khusus dan bantuan tambahan.
Banjir juga merusak 34.756 rumah warga, sebagian besar terendam hingga menyebabkan kerusakan pada perabotan dan barang-barang penting yang tak sempat dipindahkan.
Di sektor agraria, 12.782 hektare sawah dan 10.653 hektare tambak ikut terendam, memicu kekhawatiran akan terganggunya mata pencaharian ribuan petani dan petambak.
Kerusakan infrastruktur turut meluas. Data BPBD menyebutkan, 93 ruas jalan mengalami kerusakan, sebagian besar dalam kondisi berat dan 37 jembatan terdampak, 32 di antaranya rusak berat, serta 10 jaringan irigasi rusak.
Kemudian 246 fasilitas pendidikan terdampak dengan tingkat kerusakan ringan hingga sedang dan Rumah ibadah, fasilitas kesehatan, balai benih ikan, serta aset publik lainnya turut mengalami kerusakan
Sejumlah tanggul sungai juga dilaporkan jebol akibat debit air yang meningkat tajam, menyebabkan beberapa desa terendam lebih dalam.
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyampaikan bahwa fokus penanganan saat ini masih pada evakuasi warga, pencarian korban hilang, serta pemenuhan kebutuhan dasar ribuan pengungsi. Penyaluran logistik dilakukan dengan dukungan berbagai lembaga kemanusiaan dan relawan yang terus berdatangan ke wilayah terdampak.







