Search

14 Januari 2026

Korban Banjir Aceh Utara Jadi 81 Orang, Ayah Wa Distribusikan Logistik ke Pengungsi

Redaktur

LHOKSUKON | REALIATAACEH – Jumlah korban meninggal dunia akibat banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Utara terus bertambah dan kini mencapai 81 orang. Sedangkan 90 warga lainnya masih hilang Senin (1/12/2025) malam.

Situasi darurat ini membuat Bupati Aceh Utara, H Ismail A Jalil, MM (Ayah Wa), turun langsung ke lapangan memastikan distribusi logistik bagi puluhan ribu pengungsi yang tersebar di ratusan titik pengungsian.

Banjir yang berlangsung selama lima hari terakhir dipicu cuaca ekstrem, tingginya curah hujan, dan kedangkalan sungai, diperparah dengan jebolnya beberapa tanggul dan tebing sungai di Kecamatan Samudera, Nibong, Lhoksukon, dan Langkahan, serta meluapnya aliran Krueng Keureuto, Krueng Ajo, Krueng Nisam, Krueng Jambo Aye, dan Krueng Sawang.

Upaya penanganan semakin sulit akibat pemadaman total jaringan listrik dan komunikasi di sebagian besar wilayah Aceh Utara.

Internet dan layanan telepon tidak berfungsi, menghambat penyampaian laporan darurat, koordinasi evakuasi, dan distribusi logistik.

Banyak permukiman penduduk yang masih terendam banjir dan lumpur sehingga akses petugas menuju lokasi pengungsian juga terhambat.

Menyikapi kondisi tersebut, Bupati Ayah Wa telah lebih dulu menetapkan status Tanggap Darurat Banjir pada Selasa (25/11/2025) di Lhoksukon sebagai langkah awal percepatan penanganan bencana.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara melaporkan bahwa banjir ini telah berdampak pada 50.772 kepala keluarga atau 150.154 jiwa.

Dari jumlah itu, 31.179 keluarga atau 103.740 jiwa terpaksa mengungsi ke 852 titik pengungsian yang tersebar di berbagai kecamatan.

Kelompok rentan seperti 116 ibu hamil, 715 balita, 713 lansia, dan 15 penyandang disabilitas juga ikut mengungsi, sehingga penanganan khusus perlu dilakukan di posko-posko darurat.

Kerusakan infrastruktur akibat banjir tercatat sangat parah. Terdapat 3.970 rumah rusak berat, 12.685 rumah rusak sedang, dan 15.890 rumah rusak ringan.

Banjir juga menyebabkan 57 titik tanggul jebol, 27 jembatan rusak, serta 48 ruas jalan terdampak dengan tingkat kerusakan berbeda.

Sebanyak 101 sekolah mengalami kerusakan, sementara sarana pendidikan seperti alat peraga, mobiler, perangkat TIK, kit laboratorium, dan lebih dari 25 ribu buku juga rusak.

Selain itu, sebanyak 38.586 rumah masih terendam banjir dan lumpur, ditambah kerusakan pada 12.783 hektar sawah dan 10.653 hektar tambak milik warga.

Meski logistik masa panik sudah disalurkan melalui kantor-kantor kecamatan, pemerintah daerah menyatakan bahwa kebutuhan mendesak masih sangat besar.

Para pengungsi membutuhkan bantuan makanan, kebutuhan khusus perempuan dan anak, layanan kesehatan, air bersih, peralatan evakuasi seperti perahu karet, serta pemulihan jaringan komunikasi dan listrik.

Alat berat juga dibutuhkan untuk membuka akses menuju wilayah yang hingga kini masih terisolir.

Tercatat sembilan kecamatan, yakni Langkahan, Seunuddon, Baktiya, Baktiya Barat, Pirak Timur, Nisam Antara, Samudera, Lapang, dan Sawang masih belum dapat diakses dengan normal.

Juru Bicara Pemerintah Aceh Utara, Muntasir Ramli, menyatakan bahwa Pemkab Aceh Utara bersama BPBD, TNI, Polri, dan berbagai unsur relawan terus bekerja maksimal untuk memastikan kebutuhan para pengungsi terpenuhi dan akses ke daerah terisolir bisa dibuka secepat mungkin.