ACEH UTARA | REALITAACEH — Proyek pembangunan di SDN 8 Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, yang bersumber dari Tahun Anggaran 2025, menuai sorotan tajam. Bangunan yang seharusnya menjadi fasilitas pendidikan yang aman dan nyaman justru terlihat mengalami kerusakan pada sejumlah bagian.
Berdasarkan dokumentasi yang diterima redaksi, dinding bangunan tampak mengalami retakan besar dan memanjang hingga ke bagian atas bangunan. Kondisi semakin menjadi sorotan karena plafon juga terlihat melengkung.
Kerusakan tersebut menimbulkan dugaan kuat bahwa pekerjaan konstruksi tidak dikerjakan secara maksimal dan diduga tidak sesuai spesifikasi teknis yang telah ditetapkan dalam pekerjaan.
Pertanyaan publik pun mengarah pada proses pelaksanaan proyek. Bagaimana mungkin bangunan yang masih tergolong baru sudah menunjukkan kerusakan pada bagian dinding dan plafon.
Apakah material yang digunakan benar-benar sesuai spesifikasi, Bagaimana kualitas pekerjaan struktur dan pemasangannya Dan yang tidak kalah penting, ke mana fungsi pengawasan proyek selama pekerjaan berlangsung.
” Bangunan masih baru, tetapi sudah retak seperti itu. Ini bukan sekadar soal tampilan, tetapi menyangkut kualitas pekerjaan dan keselamatan anak-anak yang belajar di dalamnya,” ujar Seorang warga sekitar mempertanyakan kondisi Bangunan.
Sorotan juga tertuju pada pihak pelaksana dan pengawas proyek. Sebab, pekerjaan konstruksi pemerintah tidak hanya dituntut selesai secara administratif, tetapi juga harus memenuhi mutu, kualitas, ketahanan dan standar teknis sebagaimana tercantum dalam kontrak.
Jika kerusakan sudah terlihat tidak lama setelah pembangunan selesai, publik tentu berhak mempertanyakan apakah pekerjaan benar-benar diawasi secara ketat atau hanya mengejar penyelesaian proyek.
Lebih jauh, pihak terkait perlu membuka secara transparan nilai anggaran, perusahaan pelaksana, konsultan pengawas, spesifikasi material, serta hasil pemeriksaan pekerjaan. Jangan sampai anggaran negara atau daerah yang seharusnya menghasilkan bangunan berkualitas justru berujung pada bangunan yang harus diperbaiki kembali dalam waktu singkat.
Kondisi ini juga menjadi alarm bagi pemerintah daerah dan instansi teknis agar tidak menutup mata. Sekolah bukan sekadar bangunan yang harus selesai dan kemudian diserahterimakan, tetapi merupakan fasilitas publik yang digunakan setiap hari oleh siswa dan tenaga pendidik.
Apabila kualitas konstruksi diabaikan, dampaknya bukan hanya terhadap keuangan negara, tetapi juga terhadap keselamatan dan kenyamanan peserta didik.
Publik kini menunggu langkah konkret dari instansi terkait untuk turun langsung ke lokasi, melakukan pemeriksaan teknis, dan menjelaskan kepada masyarakat mengapa bangunan yang masih baru sudah mengalami keretakan dan perubahan bentuk pada plafon.
Sementara itu, Kepala Sekolah Dasar (SD) Negeri 8 Dewantara yang juga menjabat K3S Dewantara Ramli Saat di konfirmasi oleh media ini Selasa (25/8/2026) melalui whatsapp memilih bungkam.







