Search

14 Januari 2026

Korban Banjir Bandang Aceh Timur Masih Bertahan di Tenda Pengungsian, Begini Kondisi Mereka Kini

Redaktur

IDI | REALITAACEH – Korban banjir bandang Kabupaten Aceh Timur, masih bertahan di tenda pengungsian di titik-titik pengungsian seluruh wilayah Aceh Timur. Di lapangan, Minggu (7/12/2025), masyarakat bertahan di tenda pengungsian lantaran mayoritas dari mereka rumahnya rusak dan hanyut dibawa banjir bandang.

Sebagian lainnya bertahan karena rumahnya dipenuhi lumpur yang tebal hingga tak bisa masuk ke rumah.

Herman, pengungsi di Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur menjelaskan bahwa, di Gampong tempat tinggalnya yaitu Grong-grong kerusakan mencapai 90 persen.

Seluruh masyarakat mengungsi di jalan lintas desa.

“Kami mengungsi di jalan lintas desa, itupun di titik aman, karena beberapa ruas jalan desa juga amblas dan sangat parah.Kerusakan di sini bahkan mencapai 90 persen, mulai dari rumah hingga jalan semua telah banjir, dan aksesnya putus,” paparnya.

Ia menjelaskan bahwa, kerusakan parah di Desa Grong-grong disebabkan jebolnya tanggul dan meluapnya air sungai, sehingga arus banjir yang mengalir sangat kencang dan menabrak semua yang ada.

“Kami kan dekat dengan sungai di sini, jadi air sungai meluap ditambah jebol tanggul, makanya banyak rumah yang disapu bersih, karana arus air sangat kencang,” ungkapnya.

Ia menceritakan awal naik air Rabu (26/11/2025) malam sekitar pukul 00.00 WIB, saat itu beberapa pemuda melihat air sungai sudah meluap keluar, kemudian mereka membuat pengumuman untuk siaga.

Tak berapa lama tanggul yang ada di dekat desa jebol, suasana evakuasi yang awalnya tenang berubah jadi panik, semua mencari tempat perlindungan.

“Semua panik, dan mencari tempat tinggi, jadi kami utamakan anak-anak dan perempuan untuk mengungsi ke tempat tinggi ke arah perbatasan desa dengan jalan lintas nasional.

Selanjutnya baru kami mengungsi, seluruh harta benda banyak yang enggak dapat kami selamatkan karena banjir begitu cepat,” jelasnya.

Akses jalan antar desa Grong-grong dan Matang Peureulak terputus akibat banjir Bandang, kini warga harus berjalan di plataran sungai atau naik rakit untuk bisa tetap terhubung antar desa.

Warga bertahan di pengungsian tidak hanya terjadi di Pante Bidari, tetapi juga di Simpang Ulim, Simpang Jernih, Birem Bayeun, Peunaron dan Peureulak.

Mayoritas yang masih bertahan di tenda pengungsian karena rumah sudah tiada.

Sementara itu Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky menjelaskan bahwa dampak banjir bandang sangat merusak, ratusan masyarakat kehilangan rumahnya.

“Ratusan rumah hanyut, dan puluhan lainnya masih tertimpa longsor, alat berat sulit menembus ke lokasi dikarenakan akses belum bisa dilalui,” tuturnya.

Beberapa Kecamatan yang mengalami kerusakan parah, yaitu Madat, Pante Bidari, Simpang Jernih, Birem Bayeun dan Peunaron.

Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, kini sedang berupaya memulihkan akses jalan, agar alat berat bisa segera masuk ke desa-desa yang rusak parah untuk membersihkan longsor dan memperbaiki kerusakan lainya.

“Kami harap masyarakat dapat bersabar, karena pemulihan kita lakukan secara bertahap, mulai dari penyaluran makanan, hingga perbaikan,” tutur Al-Farlaky.