Search

14 Januari 2026

Aceh Tamiang Porak-poranda, Lebih Parah dari Tragedi Banjir Bandang 2006

Redaktur

KOTA LANGSA | REALITAACEH – Banjir besar membawa lumpur tebal di penghujung tahun 2025 ini memporak-porandakan wilayah Kabupaten Aceh Tamiang.

Akibat banjir ini, banyak rumah masyarakat di daerah Bumi Muda Sedia (Aceh Tamiang) itu dilaporkan rusak berat dan bahkan hilang.

Tidak sedikit pula kerugian materil lainnya seperti kendaraan roda empat, roda dua milik korban banjir rusak terendam air lumpur, dan ada yang hanyut.

Pantauan Jurnalis di lapangan, hingga hari ini, Sabtu (6/12/2025), masih cukup banyak korban belum bisa kembali ke tempat tinggalnya.

Batas air banjir merendam rumah mereka terlihat banyak yang mencapai atap batas resplang, atau kira-kira di atas 3 meter.

Bisa dibayangkan, saat air tinggi itu bagaimana mereka harus berjuang hidup-mati menyelamatkan nyawanya, sedangkan arus air cukup kencang.

Tinggi air melebihi kepala orang dewasa bahkan dua hingga tiga kali lipat dari tinggi manusia normal.

Sedihnya lagi, saat ini mereka harus menempati-renda-tenda darurat seadanya yang terbuat dari terpal biru, pada umumnya didirikan di pinggir jalan.

Di tenda tidak layak itu anak-anak, ibu hamil, orang tua atau lansia harus tidur melewati masa-masa sulit ini dengan beralaskan karton dan tikar.

Sedangkan air bersih sampai kini belum bisa mereka dapatkan, baru ada berapa suplai air tangki untuk kebutuhan memasak saja.

Sedangkan abu tebal dari lumpur dibawa banjir ini juga mulai mengancam kesehatan mereka, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Kantong-kantong pengungsian di daerah Aceh Tamiang cukup banyak, bantuan juga menurut warga bekum sepenuhnya merata didapatkan.

Bahkan berapa hari sebelumnya, mereka sempat harus menahan lapar dan haus karena ketiadaan makanan dan minuman.

Aceh Tamiang adalah salah satu wilayah terparah tertimpa musibah bencana banjir diakhir tahun ini, bahkan lebih parah dari banjir tahun 2006 yang pernah melanda wilayah ini.

Karena keberadaan wilayah berjuluk Bumi Muda Sedia ini dibelah oleh berapa aliran sungai besar yang bermuara ke laut.

Orang menyebutnya Sungai Tamiang, sungai besar yang berada di tengah pusat Kota Kualasimpang, sungai yang mengalirkan air dari pegunungan Aceh Tamiang, Aceh Tenggara dan Aceh Timur.

Saat banjir yang telah berlalu sekitar kurang dari sepekan lalu, air mencapai jembatan Kualasimpang, ketinggian air hingga menutupi atap rumah warga sekitar.

Kini korban banjir Aceh Tamiang hanya bisa pasrah, bantuan makanan juga belum sepenuhnya mereka dapatkan, termasuk yang sangat penting lainnya adalah air bersih.

Memang saat ini bantuan selain dari pemerintah, dari berbagai pihak seperti komunitas, warga di luar daerah, serta lainnya mulai terus berdatangan.

Padahal jika dilihat dari kerusakan rumah dan fasilitas umum lainnya dampak banjir di Aceh Tamiang ini, bencana ini cukup layak di lebel Bencana Nasional.

Namun dengan berbagai alasan dan pertimbangan politis, Pemerintah Pusat sampai hari ini tidak menganggap bencana banjir besar di Aceh bencana nasional.