Search

14 Januari 2026

1.219 Rumah di Aceh Utara Hilang, Pengungsi Butuh Hunian Sementara

Redaktur

Aceh Utara | REALIATAACEH – Ribuan rumah di Aceh Utara, Aceh, dilaporkan hilang dan rusak akibat bencana yang terjadi akhir November lalu. Para pengungsi saat ini disebut sangat membutuhkan hunian sementara.

“Selain menimbulkan korban jiwa, banjir juga menyebabkan kerusakan besar pada permukiman warga. Sebanyak 117.291 rumah terendam, 1.219 rumah dilaporkan hilang, sementara 16.793 unit mengalami rusak berat, 6.134 rusak sedang, dan 15.126 rumah rusak ringan,” kata Juru Bicara Pemerintah Aceh Utara, Muntasir Ramli, dalam keterangannya, Rabu (17/12/2025).

Berdasarkan data sementara, bencana ekologis itu berdampak pada 124.544 kepala keluarga atau 428.271 jiwa. Dari jumlah tersebut, 18.858 KK atau 71.637 jiwa terpaksa mengungsi.

Kelompok rentan menjadi perhatian khusus dalam penanganan bencana ini, di antaranya 1.309 ibu hamil, 8.626 balita, 5.502 lansia, dan 382 penyandang disabilitas. Mereka disebut sangat membutuhkan pendampingan intensif.

Muntasir menyebutkan, sektor pertanian dan infrastruktur turut terdampak, di antaranya 18.858 hektare sawah dan 71.637 tambak terendam banjir dan tertimbun lumpur. Sementara itu, 432 ruas jalan, 60 unit jembatan, 78 titik tanggul sungai, 21 unit irigasi, 383 fasilitas pendidikan (TK, SD, dan SMP), 83 fasilitas kesehatan (pustu dan puskesmas), 232 pesantren/dayah, 64 masjid, serta IKM sebanyak 1.791 unit, UMKM 14.648 unit, dan 14 unit kios atau pasar pemda mengalami kerusakan dengan tingkatan yang berbeda-beda.

“Fokus utama pemerintah saat ini adalah penanganan pengungsi, distribusi logistik ke titik pengungsian, pencarian korban meninggal dan yang dinyatakan hilang, serta pemulihan pelayanan kesehatan dan jalur transportasi darat dari material banjir dan lumpur agar akses distribusi logistik lebih lancar, supaya tidak ada pengungsi yang selamat dari banjir kemudian meninggal akibat kelaparan atau kondisi kesehatan yang semakin memburuk,” jelasnya.

Banjir yang merendam 852 desa di 27 kecamatan itu menyebabkan 166 warga meninggal dunia, enam orang dinyatakan hilang, dan 2.015 orang mengalami luka-luka. Menurutnya, Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil meminta Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat segera membangun hunian sementara sehingga para pengungsi tidak terlalu lama berada di tenda pengungsian.

“Mengingat cuaca sering hujan, diperparah dengan kondisi pemadaman listrik dan saluran komunikasi yang sering lumpuh,” jelasnya.

Berdasarkan data penerimaan dari Dinas Sosial Kabupaten Aceh Utara per tanggal 22 November hingga 9 Desember 2025, tercatat sebanyak 347.157 ton beras telah disalurkan, kemudian air minum, mi instan, minyak goreng, makanan cepat saji, roti dan biskuit, sarden, telur, kecap, sambal, selimut, perlengkapan sekolah, pampers, pakaian, pembalut, paket sembako, tenda, dan obat-obatan.

“Bantuan selain beras dan pakaian layak pakai masih minim dan sangat terbatas, belum mampu memenuhi kebutuhan 226 titik pengungsian. Akan tetapi, Bupati Aceh Utara sudah melaporkan langsung kepada Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat agar segera dibantu karena sangat dibutuhkan oleh para pengungsi, terutama kelompok rentan seperti ibu hamil, perempuan, anak-anak, balita, penyandang disabilitas, dan lansia,” ujarnya.