Sleman | REALITAACEH – Rangkaian prosesi sakral Abhiseka Samapta Diwyottama Siwalaya digelar di kawasan Candi Prambanan, di perbatasan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Rabu.
“Prosesi ini diselenggarakan untuk memperingati ulang tahun peresmian berdirinya Candi Prambanan atau Candi Siwagrha yang jatuh pada 12 November 856 Masehi, sesuai catatan Prasasti Siwagrha, sehingga tahun ini, Candi Prambanan genap berusia 1.169 tahun,” kata Ketua Panitia Abhiseka Prambanan Putu Sari.
Menurut dia, prosesi yang telah terselenggara sebanyak tujuh kali ini menjadi agenda sakral yang semakin menguatkan identitas Candi Prambanan, baik secara historis maupun spiritual.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Perkumpulan Abhiseka Samapta Diwyottama dan Yayasan Garuda Wisnu Sakti, didukung oleh Kementerian Pariwisata RI, Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, UNESCO, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X, InJourney Destination Management (IDM), dan Indonesian Language and Culture Learning Service (INCULS) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM).
Putu Sari mengatakan, Abhiseka Prambanan tahun ini menghadirkan Abhiseka International Conference yang mengusung tema Prambanan Temple: Heritage, Art, Tourism and Collaboration. Tema ini memastikan bahwa peringatan ulang tahun Candi Prambanan tidak hanya terfokus pada ritual keagamaan, tetapi juga menggaungkan dimensi luhur yang dimiliki Candi Siwagrha.
“Kami berharap Candi Prambanan dapat terus menjadi sumber inspirasi, mengukuhkan posisinya sebagai situs Warisan Budaya Dunia yang kaya nilai sejarah, seni, pariwisata, dan potensi kolaborasi lintas sektor yang dapat mengangkat Indonesia di mata dunia,” katanya.
Ia menjelaskan, Abhiseka Samapta Diwyottama Siwalaya, yang merujuk pada bagian dari Prasasti Siwagrha, bermakna penyucian atau ritual pemandian arca suci. Secara keseluruhan, nama upacara ini dimaknai sebagai penyucian arca Dewa Siwa yang suci.
Rangkaian Abhiseka Prambanan dimulai dengan prosesi Nunas Tirtha pada Selasa (11/11) dengan mengambil air dari Tirta Tukmas dan Tirta Umbul di Magelang, Jawa Tengah.
Prosesi dilanjutkan dengan menyucikan tirta menuju Candi Gunung Wukir, Candi Losari, Candi Kedulan, Candi Kalasan, kemudian menuju Keraton Ratu Boko, Candi Barong, dan berakhir di Candi Prambanan.
Prosesi ini dilakukan untuk mendapatkan air suci yang telah didoakan dan disucikan oleh seorang sulinggih (pendeta), pemangku (pemimpin upacara di pura), atau melalui pelaksanaan suatu upacara yadnya (persembahan).
Ritual dilanjutkan dengan prosesi Nunas Lingga Sakti di Pura Wisnu Sakti, Klaten, pada Rabu (12/11/2025).
Nunas Lingga Sakti merupakan prosesi penyucian lingga sebagai simbol manifestasi fisik dari Dewa Siwa yang disakralkan untuk permohonan kekuatan, kesuburan, dan anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa.
Setelahnya, Lingga dibawa menuju halaman Candi Siwa di zona utama Candi Prambanan.
Upacara inti Abhiseka Prambanan merupakan ritual penyucian agung terhadap kompleks Candi Prambanan. Arak-arakan Tirtha yang membawa air suci dari berbagai mata air (panca amarta) yang dianggap sakral memasuki area Candi Prambanan.
Upacara dilanjutkan dengan ritual Matur Piuning, yaitu upacara permohonan izin kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa bahwa ritual Abhiseka akan dilaksanakan.
Sulinggih memimpin prosesi penyucian Lingga suci dengan panca amarta, kemudian dilanjutkan dengan penyucian seluruh area Candi Prambanan untuk mengembalikan vibrasi spiritual di area inti Warisan Dunia tersebut.
Air suci yang sudah didoakan dibagikan kepada seluruh umat (pemedek) untuk diminum dan dipercikkan sebagai lambang anugerah dan berkat.
Setelahnya, umat melakukan Pradaksina, yaitu berjalan mengelilingi candi utama (Candi Siwa) searah jarum jam (kanan candi) sebagai bentuk penghormatan dan penyucian. Pradaksina dilakukan sambil membawa sesaji atau perlengkapan upacara.
“Semua sesaji yang kami gunakan disesuaikan dengan sesaji yang digunakan saat penetapan sima di abad ke-9 Masehi. Semua sesaji terdiri dari bahan organik dan warna buah sesuai dengan sembilan warna Dewata Nawa Sangha,” jelas Putu Sari.
Tahun ini, panitia juga menyelenggarakan Abhiseka International Conference dengan tema Culture, Heritage, Art, Tourism and Collaborate di Lapangan Garuda, Taman Wisata Candi Prambanan.
Forum ini membahas kajian historis Abhiseka Prambanan serta keterkaitan antara masing-masing kajian seni, budaya, dan pariwisata untuk menggaungkan nilai-nilai luhur Candi Prambanan.
Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat Wisnu Bawa Tenaya mengatakan bahwa pelaksanaan upacara Abhiseka ini memiliki signifikansi yang mendalam karena menghidupkan kembali kisah-kisah bersejarah Candi Siwagrha melalui unsur ritual keagamaan yang disertai dengan nilai seni dan budaya yang sangat kental.
“Perayaan tiap tanggal 12 November ini diharapkan tidak hanya menjadi peringatan peresmian yang dilakukan oleh Rakai Kayuwangi Pu Dyah Lokapala, namun juga berfungsi sebagai energi spiritual kolektif. Momentum kebangkitan ini harus kita manfaatkan untuk menggaungkan kembali Candi Prambanan sebagai destinasi spiritual kelas dunia yang dapat memperkuat ikatan persatuan umat,” katanya.
General Manajer Prambanan & Ratu Boko InJourney Destination Management (IDM) Ratno Timur mengatakan bahwa sebagai pengelola kawasan, IDM menegaskan komitmennya dalam mendukung penuh pelaksanaan acara tersebut dan peran Candi Prambanan sebagai situs spiritual Nusantara.
“Perayaan Abhiseka Samapta Diwyottama Siwalaya ke-7 ini menegaskan kembali peran Candi Prambanan sebagai pusat peradaban Hindu kuno di Jawa yang kini bertransformasi menjadi living monument yang lestari, sekaligus simbol toleransi, serta destinasi pariwisata spiritual yang diakui secara global,” katanya.
Ia berharap Abhiseka Prambanan bisa menjadi salah satu magnet utama dalam memperkuat makna Candi Prambanan yang tidak hanya menawarkan keindahan visual dan sejarah, tetapi juga pengalaman spiritual yang mendalam.
“Ini adalah kesempatan emas untuk memperkenalkan budaya Indonesia yang beragam dan luhur secara lebih luas kepada dunia,” katanya.
Sumber : ANTARA



