BLANGPIDIE | REALITAACEH – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menggelar doa dan zikir bersama untuk memperingati 21 Tahun Tsunami Aceh, Jumat (26/12/2025), usai shalat subuh berjamaah di Masjid Agung Baitul Ghafur, Gampong Seunaloh, Kecamatan Blangpidie.
Dalam kesempatan itu, Bupati Safaruddin menekankan pentingnya nilai kebersamaan Aceh yang dikenal melalui petuah “bangsa yang gaseh meugaseh, bila meubila”, yaitu saling mengasihi, menolong, dan menguatkan di saat duka.
“Petuah ini bukan sekadar adat, tetapi cerminan iman yang hidup dalam keseharian masyarakat Aceh,” kata Safaruddin.
Bupati juga menyoroti kondisi terkini di Abdya, termasuk hambatan distribusi LPG, pemadaman listrik, dan keterbatasan pasokan energi.
Ia meminta masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi, menghindari penyebaran kebencian di media sosial, dan menolak praktik panic buying yang merugikan bersama.
Safaruddin berharap bencana banjir dan longsor yang terjadi saat ini dapat membawa kebaikan, bukan menjadi sumber konflik.
Ia menekankan kewajiban negara untuk memenuhi hak dasar korban bencana, termasuk keselamatan, sandang, pangan, dan informasi yang valid.
“Tahun depan, kita akan memasuki Ramadan 1447 Hijriah. Namun, sebagian saudara kita akan menjalani Ramadan di pengungsian, berselimut dingin dan terbatas fasilitas. Mari kita perkuat doa, kepedulian, dan solidaritas untuk mereka,” ujarnya.
Bupati menegaskan komitmen Pemerintah Abdya untuk meningkatkan kesiapsiagaan daerah, memperkuat koordinasi lintas pemerintahan, dan memastikan pelayanan publik tetap berjalan agar masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Forkopimda, relawan, dan ulama yang berperan aktif membantu masyarakat selama bencana.
“Musibah tidak bisa dihindari, tetapi semangat bangsa Aceh tidak akan pernah padam. Dari puing-puing inilah kita bangkit, dari air mata inilah kita belajar, dan dari kebersamaan inilah kita meneguhkan tekad untuk tetap tegak berdiri menghadapi ujian,” pungkas Safaruddin.







