KOTA LANGSA | REALITAACEH – Pascabanjir besar yang melanda Kota Langsa, Aceh Tamiang, Aceh Timur, serta sejumlah daerah lain di Aceh, masih menyisakan persoalan serius.
Hingga kini, banyak warga belum mengetahui keberadaan anggota keluarga mereka yang hilang kontak sejak puncak banjir pada akhir November 2025.
Di antara warga yang belum diketahui keberadaannya, terdapat mahasiswa Universitas Samudra (Unsam) dan IAIN Langsa.
Mereka sempat berusaha pulang ke kampung halaman saat banjir melanda, namun perjalanan terhenti akibat akses darat yang terputus.
Sebagian mahasiswa yang ngekos di Langsa bahkan nekat menumpang truk angkutan barang setelah transportasi umum tidak lagi beroperasi.
Data yang dihimpun menunjukkan, banyak warga dari Aceh Timur hingga luar daerah seperti Sumatera dan Banda Aceh, hilang kontak sejak Rabu (26/11/2025).
Hal ini diperparah dengan padamnya jaringan Telkomsel selama hampir sepekan, bersamaan dengan puncak banjir di Kota Langsa.
Kondisi tersebut membuat keluarga tidak bisa berkomunikasi dan menambah kepanikan.
Akses Transportasi Putus
Di wilayah Aceh Tamiang dan Aceh Timur, banjir dengan ketinggian air yang signifikan menyebabkan akses transportasi darat lumpuh total.
Jalur Medan–Banda Aceh tidak dapat dilalui, sehingga banyak warga yang terjebak di perjalanan.
Meski kini air mulai surut dan jaringan telekomunikasi perlahan pulih, masih ada keluarga yang belum mengetahui keberadaan kerabat mereka.
Hingga hari ini, grup-grup WhatsApp masyarakat masih dipenuhi informasi pencarian anggota keluarga yang hilang kontak.
Mayoritas yang belum diketahui keberadaannya adalah perempuan.
Situasi ini menambah beban psikologis bagi keluarga yang menunggu kabar.
Pemerintah daerah bersama relawan terus berupaya melakukan pendataan dan pencarian, sembari mengimbau masyarakat untuk tetap waspada.
Banjir besar ini tidak hanya merusak infrastruktur dan memutus akses.
Tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi warga yang kehilangan kontak dengan orang-orang terdekat mereka.







